Tangerang Selatan, 4 September 2026 – Dinas Perhubungan Kota Tangerang Selatan memastikan akan mencopot stiker bertuliskan “Aku akan terus menunggu, tapi kalau lama, mending aku naik ojek online!” yang terpasang di Halte Legoso 1, Ciputat Timur. Keputusan tersebut diambil setelah tulisan itu menjadi perhatian masyarakat dan ramai diperbincangkan karena dinilai kurang sesuai dengan fungsi halte sebagai fasilitas pendukung transportasi umum. Sejumlah warga menilai pesan yang dipasang justru dapat dimaknai sebagai ajakan meninggalkan angkutan umum ketika waktu tunggu terasa lama. Dishub Tangsel kemudian merespons kritik tersebut dan menyatakan stiker akan segera diganti dengan pesan yang lebih tepat. Penggantian dilakukan agar materi komunikasi di fasilitas publik tetap sejalan dengan upaya mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum.
Kasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Dishub Tangsel, Fiqa Permana, menjelaskan bahwa pemasangan tulisan tersebut pada awalnya merupakan bagian dari kreativitas dalam memberikan pesan kepada masyarakat. Kalimat dengan gaya ringan itu diharapkan dapat menjadi hiburan bagi warga yang sedang menunggu kendaraan di halte, terutama ketika menghadapi perjalanan dan kondisi lalu lintas yang melelahkan. Namun, respons masyarakat menunjukkan bahwa pesan tersebut dapat ditafsirkan berbeda dari tujuan awal pemasangannya. Pemerintah daerah kemudian memilih mempertimbangkan masukan yang berkembang dan tidak mempertahankan materi tersebut. Langkah pencopotan menjadi bentuk evaluasi terhadap komunikasi publik yang digunakan pada fasilitas transportasi.
Stiker tersebut diketahui terpasang pada bagian kaca Halte Legoso 1 dan memiliki warna dasar biru muda. Selain kalimat mengenai memilih ojek online apabila waktu menunggu terlalu lama, terdapat pula sejumlah pesan lain mengenai kepatuhan terhadap rambu lalu lintas dan imbauan agar masyarakat tidak mencoret-coret halte. Logo Dishub Kota Tangerang Selatan serta semboyan “Tangsel Kota Layak Anak” juga terlihat pada materi tersebut. Kehadiran identitas instansi membuat tulisan itu kemudian dianggap sebagai bagian dari pesan resmi pemerintah daerah kepada masyarakat. Karena itulah pemilihan kalimat dalam materi komunikasi tersebut mendapat perhatian setelah beredar luas di ruang publik.
Sorotan terutama muncul karena halte merupakan fasilitas yang disediakan untuk mendukung penggunaan angkutan umum. Sejumlah warga menilai pesan di dalamnya semestinya memberikan dorongan agar masyarakat tetap menggunakan transportasi publik, menjaga fasilitas, menaati aturan, atau memperhatikan keselamatan selama perjalanan. Kalimat mengenai beralih menggunakan ojek online dinilai tidak sejalan dengan konteks tersebut meskipun dimaksudkan sebagai bentuk kreativitas. Bagi sebagian masyarakat, pilihan moda perjalanan juga berkaitan dengan biaya sehingga transportasi umum tetap menjadi kebutuhan utama dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Perbedaan konteks tersebut membuat sebuah kalimat yang awalnya dimaksudkan sebagai hiburan akhirnya menimbulkan interpretasi yang tidak diharapkan.
Dishub Tangsel menyatakan materi pengganti sedang dipersiapkan dan akan menggunakan pesan yang lebih sederhana. Salah satu arah pesan yang dipertimbangkan berkaitan dengan ajakan menjaga kebersihan serta ketertiban di lingkungan halte. Pemilihan pesan semacam itu dinilai lebih relevan dengan fungsi fasilitas publik karena dapat berlaku bagi seluruh pengguna tanpa menimbulkan tafsir mengenai pilihan moda transportasi tertentu. Proses desain materi baru dilakukan agar penggantian dapat segera dilaksanakan setelah stiker lama dicopot. Dengan langkah tersebut, Halte Legoso 1 tetap dapat memiliki materi edukasi publik tetapi dengan isi yang lebih sesuai dengan tujuan pelayanan transportasi.
Warga di sekitar Halte Legoso juga memberikan masukan agar materi pengganti lebih menonjolkan ajakan menggunakan transportasi umum. Salah seorang pengguna halte menilai kalimat yang sebelumnya terpasang kurang tepat karena masyarakat yang mengandalkan angkutan umum memiliki pertimbangan biaya berbeda dibandingkan ketika menggunakan transportasi berbasis aplikasi. Penggunaan ojek online membutuhkan pengeluaran tambahan yang tidak selalu menjadi pilihan bagi setiap penumpang. Karena itu, pesan yang mendorong ketertiban, keselamatan, kebersihan, atau kenyamanan selama menggunakan angkutan umum dianggap lebih tepat. Masukan masyarakat tersebut menjadi salah satu bagian yang dipertimbangkan Dishub dalam melakukan penggantian.
Peristiwa di Halte Legoso menunjukkan bahwa komunikasi pada ruang publik membutuhkan perhatian terhadap konteks tempat sebuah pesan ditempatkan. Kalimat yang dapat dianggap ringan atau menghibur dalam konteks tertentu belum tentu menghasilkan pemaknaan serupa ketika dipasang sebagai materi resmi pemerintah. Pada fasilitas transportasi, pesan publik juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong perubahan pola mobilitas masyarakat. Pemerintah daerah selama ini memiliki kepentingan untuk meningkatkan penggunaan angkutan umum sebagai salah satu cara mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan mengatasi persoalan lalu lintas perkotaan. Karena itu, materi yang dipasang pada halte idealnya memperkuat arah tersebut sekaligus memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna.
Keberadaan halte yang nyaman dan informatif juga merupakan bagian dari peningkatan kualitas layanan transportasi umum. Selain menyediakan tempat menunggu, halte dapat menjadi ruang untuk menyampaikan informasi mengenai keselamatan, kebersihan, tata tertib, maupun layanan perjalanan. Materi komunikasi yang sederhana tetapi tepat sasaran dapat membantu membangun pengalaman yang lebih baik bagi masyarakat ketika menggunakan angkutan umum. Sebaliknya, pesan yang menimbulkan kebingungan atau dianggap bertentangan dengan fungsi fasilitas dapat mengurangi efektivitas komunikasi tersebut. Evaluasi terhadap stiker di Halte Legoso 1 karena itu dapat menjadi pembelajaran dalam penyusunan materi serupa pada fasilitas publik lainnya.
Respons cepat terhadap kritik juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan fasilitas milik pemerintah. Masyarakat sebagai pengguna dapat memberikan perspektif berbeda terhadap kebijakan maupun materi yang ditemui dalam aktivitas sehari-hari. Ketika masukan tersebut memiliki dasar yang relevan, evaluasi dapat dilakukan tanpa harus menunggu persoalan berkembang lebih luas. Dalam kasus ini, Dishub Tangsel memilih mencopot tulisan yang dipersoalkan dan menggantinya dengan pesan yang dinilai lebih netral. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa materi komunikasi pada ruang publik dapat disesuaikan berdasarkan evaluasi terhadap penerimaan masyarakat.
Pencopotan stiker “mending aku naik ojek online” di Halte Legoso 1 selanjutnya diharapkan diikuti dengan pemasangan materi baru yang lebih sesuai dengan fungsi halte sebagai fasilitas transportasi umum. Dishub Tangsel telah menyampaikan bahwa desain pengganti dipersiapkan dengan pesan yang lebih sederhana, termasuk mengenai kebersihan dan ketertiban. Peristiwa tersebut menjadi contoh pentingnya memastikan kreativitas dalam komunikasi pemerintah tetap mempertimbangkan tujuan fasilitas, karakter pengguna, serta kebijakan transportasi yang sedang dijalankan. Halte bukan hanya tempat menunggu kendaraan, tetapi juga bagian dari wajah pelayanan publik yang berinteraksi langsung dengan masyarakat setiap hari. Dengan evaluasi dan perbaikan tersebut, materi informasi yang ditempatkan di fasilitas transportasi diharapkan dapat memberikan pesan yang jelas, relevan, dan mendukung masyarakat untuk tetap nyaman menggunakan angkutan umum.





