Jakarta, 29 Juli 2026 – Pembangunan terowongan pejalan kaki di kawasan Bundaran Hotel Indonesia atau Bundaran HI ditargetkan selesai pada Juni 2027. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk meningkatkan konektivitas pejalan kaki sekaligus mendukung integrasi berbagai moda transportasi publik di salah satu kawasan tersibuk di pusat Jakarta. Terowongan diharapkan memberikan jalur perpindahan yang lebih nyaman sehingga masyarakat tidak harus bergantung pada penyeberangan di permukaan untuk mencapai sejumlah titik di sekitar Bundaran HI. Pembangunan juga menjadi bagian dari penataan kawasan yang semakin berorientasi pada transportasi massal dan mobilitas pejalan kaki. Dengan target penyelesaian pada pertengahan 2027, pengerjaan harus mempertimbangkan aktivitas lalu lintas, operasional transportasi publik, serta kegiatan masyarakat yang tetap berlangsung selama konstruksi.
Bundaran HI memiliki posisi strategis karena berada di koridor utama Jalan MH Thamrin yang setiap hari menjadi pusat pergerakan pekerja, wisatawan, pengguna transportasi umum, dan masyarakat yang melakukan berbagai aktivitas. Kawasan tersebut juga terhubung dengan layanan MRT Jakarta dan sejumlah jaringan angkutan umum lainnya. Tingginya aktivitas membuat kebutuhan terhadap jalur pejalan kaki yang aman dan efisien semakin besar, terutama pada jam sibuk ketika arus penumpang meningkat. Terowongan dapat memberikan alternatif pergerakan tanpa menambah interaksi langsung antara pejalan kaki dan kendaraan di permukaan. Keberadaannya juga berpotensi membantu mengatur distribusi penumpang agar tidak terkonsentrasi pada satu titik akses.
Konsep konektivitas bawah tanah semakin relevan ketika kawasan pusat kota memiliki keterbatasan ruang di permukaan. Jalan utama tetap harus melayani kendaraan dan transportasi umum, sementara trotoar digunakan oleh pejalan kaki dalam jumlah besar. Pemanfaatan ruang bawah tanah memungkinkan penambahan jalur pergerakan tanpa harus memperluas ruang jalan secara signifikan. Namun, desain terowongan perlu memperhatikan akses yang mudah, arah perjalanan yang jelas, serta hubungan dengan fasilitas transportasi dan bangunan di sekitarnya. Pengguna harus dapat memahami jalur yang tersedia tanpa mengalami kesulitan menentukan pintu keluar maupun tujuan berikutnya.
Aspek aksesibilitas menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan fasilitas pejalan kaki modern. Terowongan tidak hanya harus dapat digunakan masyarakat yang berjalan kaki, tetapi juga perlu mempertimbangkan kebutuhan pengguna kursi roda, lansia, orang tua yang membawa anak, serta penumpang dengan barang bawaan. Lift, eskalator, jalur landai, permukaan lantai yang aman, dan penunjuk arah dapat menentukan kenyamanan penggunaan fasilitas tersebut. Sistem penerangan dan kamera pengawas juga diperlukan untuk menjaga keamanan sepanjang jam operasional. Ketika akses bawah tanah dirancang inklusif, manfaatnya dapat dirasakan oleh kelompok masyarakat yang lebih luas.
Pembangunan di kawasan Bundaran HI menghadirkan tantangan karena proyek berlangsung di tengah pusat aktivitas Jakarta. Pengaturan konstruksi perlu dilakukan agar dampaknya terhadap lalu lintas dan akses pejalan kaki dapat ditekan selama pengerjaan. Area kerja, jalur alternatif, pergerakan alat dan material, hingga keselamatan masyarakat di sekitar proyek harus dikelola secara ketat. Informasi mengenai perubahan jalur juga perlu disampaikan dengan jelas apabila terdapat bagian trotoar atau akses tertentu yang harus disesuaikan sementara. Koordinasi dengan operator transportasi publik menjadi penting karena kawasan tersebut tetap harus melayani perjalanan masyarakat setiap hari.
Setelah rampung, terowongan berpotensi memperkuat konsep kawasan berorientasi transit di sekitar Bundaran HI. Masyarakat yang turun dari transportasi massal dapat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui jaringan yang lebih terhubung menuju pusat perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, maupun ruang publik di sekitarnya. Kemudahan perjalanan dari stasiun menuju tujuan akhir menjadi salah satu faktor yang menentukan daya tarik transportasi publik. Apabila perpindahan dapat dilakukan secara nyaman, masyarakat memiliki alasan lebih kuat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi menuju pusat kota. Infrastruktur pejalan kaki dengan demikian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan sistem angkutan massal.
Pengelolaan setelah proyek selesai juga akan menentukan kualitas terowongan dalam jangka panjang. Fasilitas bawah tanah membutuhkan pemeliharaan terhadap penerangan, ventilasi, drainase, lift, eskalator, sistem keamanan, serta kebersihan. Drainase menjadi perhatian khusus karena fasilitas berada di bawah permukaan dan harus tetap aman ketika Jakarta mengalami hujan dengan intensitas tinggi. Sistem pemantauan dan prosedur keadaan darurat juga perlu disiapkan agar pengelola dapat merespons gangguan dengan cepat. Infrastruktur yang dibangun dengan baik tetap membutuhkan pemeliharaan konsisten agar kenyamanan pengguna tidak menurun setelah beberapa tahun beroperasi.
Target penyelesaian terowongan pejalan kaki Bundaran HI pada Juni 2027 pada akhirnya menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas kawasan pusat Jakarta. Infrastruktur tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi jalur bawah tanah, tetapi membentuk jaringan perjalanan yang menghubungkan transportasi publik dengan berbagai pusat aktivitas secara lebih aman dan efisien. Tantangan selama pembangunan berada pada kemampuan menjaga aktivitas kawasan tetap berjalan sambil memastikan proyek selesai sesuai target dan memenuhi standar keselamatan. Setelah beroperasi, aksesibilitas, keamanan, kebersihan, serta integrasi dengan moda transportasi akan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilannya. Kehadiran terowongan tersebut diharapkan membuat kawasan Bundaran HI semakin ramah bagi pejalan kaki sekaligus mendukung pergeseran mobilitas Jakarta menuju penggunaan transportasi publik yang lebih terintegrasi.





