Jakarta, 18 September 2026 – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. Pada perdagangan Kamis, 17 September 2026, rupiah ditutup melemah sekitar 0,32 persen atau 57 poin ke level Rp17.753 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi setelah pasar mencerna keputusan terbaru Federal Open Market Committee yang membawa target federal funds rate ke kisaran 3,75–4,00 persen. Kenaikan suku bunga AS membuat dolar mendapatkan dukungan karena imbal hasil aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi sebagian investor global. Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah. Pergerakan pasar juga dibayangi ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS masih dapat tetap ketat dalam beberapa waktu ke depan.
Keputusan The Fed diumumkan setelah pertemuan kebijakan moneter pada 16 September 2026. FOMC secara bulat memutuskan menaikkan target suku bunga sebesar seperempat poin persentase dari posisi sebelumnya. The Fed menyatakan aktivitas ekonomi AS masih berkembang dengan laju solid, sementara belanja domestik tetap tangguh dan investasi modal berada pada kondisi kuat. Pasar tenaga kerja juga dinilai relatif stabil dengan tingkat pengangguran yang tidak banyak berubah. Namun, inflasi masih berada pada level tinggi sehingga bank sentral menilai diperlukan kebijakan yang mendukung pengembalian inflasi menuju sasaran 2 persen secara lebih tepat waktu. Keputusan tersebut sekaligus menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak 2023.
Kenaikan tersebut membawa target federal funds rate menjadi 3,75 persen hingga 4,00 persen. The Fed juga menaikkan bunga yang dibayarkan atas saldo cadangan menjadi 3,90 persen mulai 17 September 2026. Selain itu, primary credit rate dinaikkan seperempat poin menjadi 4,00 persen. Langkah tersebut memperlihatkan arah kebijakan yang lebih ketat ketika tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Pelaku pasar kemudian menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap jalur suku bunga AS hingga akhir tahun. Perubahan ekspektasi tersebut berdampak langsung terhadap pergerakan obligasi pemerintah AS, dolar, saham, dan mata uang negara berkembang.
Reaksi pasar global terlihat dari penguatan dolar setelah keputusan tersebut diumumkan. Indeks dolar tercatat menguat sekitar 0,63 persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS juga bergerak naik. Imbal hasil Treasury tenor dua tahun meningkat karena instrumen jangka pendek sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga The Fed. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik aset dolar dibandingkan aset berisiko di negara berkembang. Ketika permintaan terhadap dolar meningkat, mata uang negara berkembang berpotensi menghadapi tekanan jual. Rupiah menjadi salah satu mata uang regional yang harus menghadapi perubahan sentimen tersebut pada perdagangan berikutnya.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya telah terlihat menjelang pengumuman hasil rapat The Fed. Pada penutupan perdagangan Rabu, 16 September 2026, rupiah berada di sekitar Rp17.696 per dolar AS setelah melemah tipis sekitar 0,01 persen. Sehari kemudian tekanan bertambah ketika pelaku pasar mendapatkan kepastian bahwa The Fed memilih menaikkan suku bunga. Rupiah kemudian berakhir di sekitar Rp17.753 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan bagaimana perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat dapat dengan cepat memengaruhi sentimen terhadap mata uang domestik. Investor cenderung melakukan penyesuaian posisi berdasarkan selisih imbal hasil dan perkiraan kebijakan bank sentral utama dunia.
Tekanan juga tidak hanya terjadi terhadap rupiah. Sejumlah mata uang Asia bergerak melemah setelah The Fed menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat. Yen Jepang, won Korea Selatan, dan sejumlah mata uang regional lainnya menghadapi tekanan ketika dolar menguat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan mata uang tidak sepenuhnya berasal dari faktor domestik Indonesia. Kebijakan moneter Amerika Serikat tetap menjadi salah satu penggerak utama aliran modal global karena ukuran pasar keuangan negara tersebut. Ketika tingkat bunga AS meningkat, investor mempunyai insentif lebih besar untuk menempatkan dana pada instrumen dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada kemungkinan arah kebijakan The Fed hingga penghujung 2026. Proyeksi para pembuat kebijakan menunjukkan mayoritas pejabat The Fed memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan suku bunga lagi tahun ini. Sebanyak 16 dari 18 pembuat kebijakan memperkirakan setidaknya satu kenaikan tambahan sepanjang 2026. Ekspektasi tersebut menjadi faktor yang perlu diperhitungkan pasar karena dapat mempertahankan daya tarik dolar dan imbal hasil obligasi AS pada level tinggi. Meski demikian, keputusan pada pertemuan berikutnya tetap akan dipengaruhi perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja, dan kondisi global. Perubahan data ekonomi AS dapat membuat ekspektasi pasar terhadap jalur suku bunga kembali bergerak.
Bagi Indonesia, pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi kemampuan pasar domestik menghadapi perubahan arus modal global. Selisih suku bunga, permintaan dolar untuk kebutuhan impor, harga komoditas, dan kondisi perdagangan internasional menjadi beberapa faktor yang ikut menentukan pergerakan mata uang. Penguatan dolar yang berlangsung dalam waktu panjang dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, terutama ketika investor mengurangi eksposur pada aset berisiko. Di sisi lain, fundamental ekonomi domestik dan kebijakan stabilisasi dapat membantu mengurangi volatilitas yang berlebihan. Karena itu, pergerakan rupiah tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor meskipun keputusan The Fed menjadi sentimen utama setelah pertemuan September. Pasar akan terus mengamati perkembangan global dan domestik untuk menentukan arah transaksi berikutnya.
Kenaikan suku bunga AS juga mempunyai implikasi lebih luas terhadap pasar keuangan karena dapat memengaruhi biaya pendanaan global. Perusahaan maupun pemerintah yang mempunyai kebutuhan pembiayaan dalam dolar dapat menghadapi kondisi pendanaan yang lebih ketat ketika suku bunga bertahan tinggi. Investor pada saat yang sama akan membandingkan tingkat risiko dan imbal hasil dari berbagai negara sebelum menentukan penempatan dana. Pergeseran portofolio tersebut dapat menciptakan volatilitas pada pasar obligasi, saham, dan valuta asing. Bagi rupiah, perubahan arus modal asing menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan pergerakan berlangsung cepat dalam jangka pendek. Stabilitas pasar karena itu akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global setelah kenaikan suku bunga The Fed.
Rupiah kini memasuki periode yang masih dibayangi ketidakpastian mengenai jalur suku bunga Amerika Serikat. Keputusan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen telah memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter ketat belum sepenuhnya berakhir. Pasar akan mencermati data inflasi AS berikutnya untuk menilai apakah kenaikan tambahan masih diperlukan sebelum akhir tahun. Di dalam negeri, perhatian akan tertuju pada respons pasar, pergerakan arus modal, serta kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Pelemahan rupiah ke sekitar Rp17.753 per dolar AS memperlihatkan kuatnya pengaruh sentimen global terhadap perdagangan valuta asing domestik. Arah rupiah berikutnya akan ditentukan oleh kombinasi kebijakan bank sentral, perkembangan ekonomi global, serta kondisi fundamental Indonesia.





