Jakarta, 23 September 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran telah berulang kali menolak usulan kesepakatan yang diajukan Washington dalam rangka meredakan konflik dan menyelesaikan perselisihan antara kedua negara. Pernyataan tersebut muncul ketika hubungan AS dan Iran masih dibayangi perbedaan mengenai program nuklir, sanksi ekonomi, keamanan kawasan, serta pengaturan pelayaran di Selat Hormuz. Trump mempertahankan tuntutan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir sebagai salah satu prinsip utama kebijakan pemerintahannya. Namun, komunikasi antara Washington dan Teheran tetap berlangsung di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Trump pada 22 September juga menyatakan pembicaraan dengan Iran masih berlanjut dan menyampaikan keyakinannya bahwa suatu penyelesaian pada akhirnya dapat dicapai.
Hubungan kedua negara sepanjang 2026 mengalami beberapa kali perubahan antara jalur diplomasi dan peningkatan tekanan. Pada Juni, kedua pihak sempat mencapai memorandum yang dimaksudkan sebagai dasar penghentian konflik sekaligus membuka ruang untuk perundingan mengenai kesepakatan yang lebih permanen. Dalam perkembangannya, proses tersebut tidak menghasilkan penyelesaian final dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Amerika Serikat dan Iran tetap berkomunikasi melalui sejumlah perantara, tetapi perbedaan mengenai isu nuklir dan berbagai tuntutan keamanan membuat negosiasi berjalan sulit. Situasi tersebut kemudian kembali meningkatkan ketegangan dan memperbesar tekanan terhadap upaya diplomasi.
Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa Washington telah memberikan sejumlah kesempatan kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan. Pemerintahannya menginginkan pengaturan yang memberikan jaminan bahwa Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir. Dari sisi Iran, sejumlah tuntutan disampaikan sebelum perundingan dapat dilanjutkan secara lebih luas, termasuk penghentian pertempuran, pencabutan tekanan ekonomi tertentu, pembukaan akses terhadap dana Iran yang dibekukan, dan perubahan kebijakan AS di kawasan. Perbedaan mengenai persyaratan tersebut menjadi salah satu hambatan utama dalam mencari titik temu. Kedua pihak juga memiliki interpretasi berbeda mengenai kewajiban yang harus dipenuhi dalam proses menuju kesepakatan baru.
Selat Hormuz turut menjadi bagian penting dalam perselisihan karena jalur tersebut memiliki posisi strategis bagi perdagangan energi dunia. Iran mengaitkan pembukaan penuh jalur pelayaran dengan sejumlah tuntutan keamanan dan ekonomi, sementara Amerika Serikat berupaya memastikan aktivitas perdagangan internasional dapat berlangsung tanpa gangguan. Ketidakpastian mengenai Hormuz telah memberikan dampak terhadap pasar energi dan meningkatkan kekhawatiran negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk. Kondisi tersebut membuat penyelesaian konflik memiliki konsekuensi yang jauh melampaui hubungan bilateral Washington dan Teheran. Negara-negara kawasan juga terus berupaya mendorong jalur diplomasi untuk mengurangi risiko eskalasi.
Dalam perkembangan terbaru, Trump menyatakan komunikasi dengan Iran masih berjalan meskipun sebelumnya berulang kali menyampaikan kritik terhadap sikap Teheran dalam negosiasi. Seusai pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada 22 September, Trump mengatakan pembicaraan antara kedua negara terus berlangsung. Ia menyampaikan optimisme bahwa penyelesaian dapat dicapai, tetapi kembali menegaskan bahwa Washington tidak akan menerima kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir. Pernyataan tersebut menunjukkan jalur komunikasi belum sepenuhnya tertutup meskipun kedua negara masih memiliki perbedaan mendasar. Posisi Iran terhadap berbagai persyaratan AS tetap menjadi faktor utama yang akan menentukan perkembangan negosiasi berikutnya.
Iran pada sisi lain telah menyampaikan sejumlah persyaratan untuk memulai kembali perundingan secara lebih luas. Teheran menginginkan adanya jaminan mengenai penghentian pertempuran dan perubahan sejumlah kebijakan yang dinilai memberikan tekanan terhadap negara tersebut. Kondisi itu membuat negosiasi tidak hanya berpusat pada persoalan nuklir, tetapi juga mencakup isu keamanan, ekonomi, sanksi, dan hubungan regional. Perbedaan kepentingan tersebut menjelaskan mengapa berbagai upaya mediasi sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan permanen. Diplomasi melalui negara perantara tetap memiliki peran penting apabila Washington dan Teheran belum dapat menyelesaikan seluruh persoalan melalui pembicaraan langsung.
Klaim Trump bahwa Iran berulang kali menolak usulan AS menjadi bagian terbaru dari dinamika panjang negosiasi yang terus berubah sepanjang tahun ini. Meski perbedaan antara kedua negara masih besar, berlanjutnya komunikasi menunjukkan bahwa jalur diplomasi tetap tersedia sebagai salah satu pilihan untuk mengurangi ketegangan. Keberhasilan perundingan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan kedua pihak menemukan titik temu mengenai program nuklir Iran, tekanan ekonomi, keamanan regional, dan masa depan Selat Hormuz. Setiap perkembangan dalam negosiasi juga akan menjadi perhatian negara-negara lain karena konflik telah memengaruhi keamanan serta pasar energi internasional. Dengan pembicaraan yang masih berlangsung, arah hubungan Washington dan Teheran dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh tindak lanjut terhadap proposal serta persyaratan yang diajukan masing-masing pihak.





