Pandeglang, 20 September 2026 – Keluarga lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih hilang di perairan Selat Sunda menggelar prosesi tabur bunga sebagai bentuk penghormatan dan doa setelah operasi pencarian resmi dihentikan. Prosesi berlangsung pada Jumat, 18 September 2026, dengan keluarga mendatangi kawasan yang menjadi titik awal perjalanan rombongan sebelum hilang kontak. Sebagian keluarga berdiri di pantai dekat Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, sambil membawa berbagai jenis bunga. Mereka menghadap ke laut, menundukkan kepala dan memanjatkan doa bagi orang-orang yang hingga kini belum ditemukan. Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut dan sejumlah anggota keluarga tidak mampu menahan tangis. Meski pencarian aktif telah berakhir, keluarga masih menyimpan harapan akan adanya petunjuk baru mengenai keberadaan delapan orang tersebut.
Prosesi penghormatan juga dilakukan dari atas KN SAR 247 Tetuka yang membawa keluarga menuju perairan Selat Sunda. Kapal tersebut bertolak dari Pelabuhan Pelindo Ciwandan, Kota Cilegon, menuju sekitar koordinat yang diduga menjadi lokasi terakhir speedboat Arupadatu I kehilangan kontak. Setibanya di lokasi, keluarga melakukan tabur bunga ke laut sebagai bentuk doa dan penghormatan. Di antara mereka terdapat istri dan anak jurnalis Yudistiro Pranoto yang ikut melepaskan bunga dari atas kapal. Momen tersebut berlangsung emosional karena keluarga sebelumnya telah menunggu selama sepuluh hari selama operasi pencarian berlangsung. Mereka berharap orang-orang yang hilang suatu saat dapat ditemukan sehingga keluarga mendapatkan kepastian mengenai nasib mereka.
Lima jurnalis yang masih dinyatakan hilang adalah M. Bagus Khoirunnas, Arie Basuki, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi, dan Donal Husni. Sementara tiga orang lainnya yang berada dalam rombongan adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, serta Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu. Mereka menggunakan speedboat Arupadatu I untuk menuju kawasan Gunung Anak Krakatau dalam rangka kegiatan peliputan. Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan pada Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Salah satu anggota rombongan sempat mengirimkan titik lokasi sekitar pukul 14.42 WIB sebelum komunikasi kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB. Sejak saat itu, keberadaan kapal beserta seluruh orang di dalamnya belum diketahui.
Laporan hilang kontak kemudian memicu operasi pencarian besar yang melibatkan berbagai unsur. Tim SAR gabungan melakukan penyisiran sejak 8 September dengan menggunakan kapal, pemantauan udara, serta berbagai sarana pencarian lainnya. Masa pencarian awal kemudian diperpanjang selama tiga hari karena belum ditemukan petunjuk yang dapat memastikan keberadaan rombongan. Pada hari terakhir, sebanyak 24 kapal dikerahkan dengan wilayah pencarian mencapai sekitar 8.509 mil laut persegi dan dibagi menjadi 10 sektor. Sekitar 523 personel terlibat dalam operasi hari kesepuluh tersebut. Area pencarian tidak hanya mencakup Selat Sunda, tetapi diperluas ke pesisir barat Banten, wilayah barat Sumatra hingga sekitar Pulau Enggano.
Selama sepuluh hari operasi, petugas menemukan sedikitnya 13 objek atau material yang sempat diperiksa karena dianggap berpotensi berkaitan dengan Arupadatu I. Benda-benda tersebut antara lain pelampung, terpal, helm dan galon yang ditemukan di sejumlah titik pencarian. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dan konfirmasi, seluruh temuan dinyatakan tidak berkaitan dengan speedboat maupun rombongan yang hilang. Berbagai informasi dari masyarakat juga telah ditindaklanjuti oleh petugas, tetapi belum menghasilkan petunjuk mengenai keberadaan kapal. Kondisi tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi sebelum keputusan penghentian operasi diambil. Hingga hari terakhir pencarian, tidak ditemukan kapal, penumpang maupun kru Arupadatu I.
Operasi SAR gabungan akhirnya resmi dihentikan pada Kamis, 17 September 2026, setelah berlangsung selama sepuluh hari termasuk masa perpanjangan. Keputusan tersebut diambil melalui rapat evaluasi di Posko Utama SAR Gabungan di kawasan Carita. Gubernur Banten Andra Soni menjelaskan seluruh temuan selama operasi telah diperiksa, tetapi belum ada yang dapat dihubungkan dengan Arupadatu I. Basarnas menilai operasi pencarian aktif sudah tidak efektif untuk dilanjutkan dalam format yang sama setelah area luas disisir tanpa menghasilkan petunjuk signifikan. Pengumuman penghentian tersebut menjadi momen berat bagi keluarga yang selama berhari-hari menunggu kabar. Isak tangis pun mewarnai saat keluarga menerima keputusan bahwa pencarian aktif tidak lagi dilanjutkan.
Meski operasi gabungan dihentikan, pemantauan terhadap kemungkinan keberadaan kapal dan delapan orang yang hilang tidak sepenuhnya berakhir. Basarnas tetap berkoordinasi dengan Vessel Traffic Service, TNI Angkatan Laut, Polairud, serta kapal-kapal yang melintas di kawasan Selat Sunda. Informasi dari nelayan maupun masyarakat pesisir juga tetap menjadi bagian penting apabila ditemukan objek atau tanda yang mencurigakan. Operasi SAR dapat dibuka kembali apabila terdapat informasi baru yang dinilai cukup kuat untuk ditindaklanjuti. Dengan mekanisme tersebut, penghentian operasi aktif bukan berarti kemungkinan pencarian kembali telah ditutup sepenuhnya. Keluarga pun berharap koordinasi dan pemantauan tetap dilakukan sehingga setiap petunjuk baru dapat segera diperiksa.
Solidaritas terhadap keluarga juga datang dari komunitas jurnalis. Koordinatoriat Wartawan Parlemen menggelar doa bersama di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 18 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan kepada keluarga sekaligus penghormatan kepada lima jurnalis dan tiga kru yang hilang ketika menjalankan perjalanan peliputan. Komunitas pers juga menyiapkan santunan bagi keluarga para jurnalis. Dukungan serupa muncul di sejumlah daerah selama proses pencarian berlangsung. Rangkaian doa tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap para jurnalis dan kru yang hingga berakhirnya operasi SAR masih belum ditemukan.
Tabur bunga di Selat Sunda akhirnya menjadi momen penuh makna bagi keluarga setelah sepuluh hari menunggu hasil operasi pencarian. Bunga yang dilepaskan ke laut menjadi simbol penghormatan, tetapi keluarga belum sepenuhnya melepaskan harapan memperoleh kepastian. Status lima jurnalis dan tiga kru Arupadatu I hingga berakhirnya operasi resmi masih dinyatakan hilang, bukan telah ditemukan meninggal dunia. Karena itu, setiap informasi baru yang muncul tetap diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai keberadaan mereka. Basarnas juga membuka kemungkinan operasi kembali dilakukan apabila terdapat tanda yang dapat diverifikasi. Di tengah ketidakpastian tersebut, doa keluarga tetap menyertai delapan orang yang belum kembali dari perjalanan menuju kawasan Anak Krakatau.






